Rekan2 Milis,
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bagi rekan2 yg berminat utk studi lanjut di Korea Selatan (S2, S3) atau pun ambil riset utk 6 bln atau 1 thn. Silahkan kunjungi website berikut di : http://www.ied.go.kr
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Feri
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Kuliah Ke Luar Negeri
Baca Selengkapnya..
Program Pendidikan
Baca Selengkapnya..
pesan ini di berikan alumni smantitas yang sekarang Kuliah di taiwan..nama beliau Bapak Ferisilakan gabungdimillis :Alumni_SMAN3_Tasik%40yahoogroups.com
PENGUMUMAN
Nomor : KM.01.03.6.2.1884/2008
PROGRAM PENEMPATAN PERAWAT INDONESIA KE JEPANG
Sebagai realisasi dari kesepakatan G to G antara Pemerintah Indonesia dan Jepang dalam kerangka IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement) yang telah ditandatangani di Jakarta pada tanggal 19 Mei 2008, maka Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan RI membuka kesempatan bagi perawat Indonesia untuk bekerja sebagai Perawat (Kangoshi) di Jepang.
Bagi perawat yang lulus seleksi (diharapkan 240 orang perawat) akan diberangkatkan ke Jepang pada bulan Agustus 2008 dengan masa kontrak kerja selama 3 tahun dengan starting salary sekitar 200.000-250.000 yen atau Rp 17,9 juta.
Persyaratan dan prosedur pendaftaran :
1. Perawat Indonesia, laki-laki dan wanita, usia 21 รก~ E35 tahun, lulusan D-3 /S-1 Keperawatan tahun 2005 atau sebelumnya dengan pengalaman kerja di klinik/RS sebagai perawat min 2 tahun.
2. Berkas yang diperlukan (masukkan dalam 1 map berwarna merah) :
a. Fotocopy Ijazah dan transkrip nilai akademik yang sudah dilegalisir (bahasa Indonesia) dan yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris (dari institusi pendidikannya atau penterjemah resmi)
b. Fotocopy surat keterangan pengalaman kerja minimal 2 tahun dalam bahasa Indonesia dan terjemahan dalam bahasa Inggris.
c. Fotocopy KTP, Surat Keterangan Catatan Kepolisian/SKCK (asli), Kartu tanda pencari kerja/Kartu kuning (asli dan fotocopy yang dilegalisir oleh Disnakertrans).
d. Surat Ijin dari suami/istri/orangtua/wali yang diketahui oleh Ketua RW/Lurah/Kepala Desa.
e. Pasfoto terbaru latar belakang biru ukuran 3x4 cm = 4 lembar.
f. Good performance (bagi wanita tidak dalam keadaan hamil, bagi pria tidak bertindik, dan baik pria maupun wanita tidak boleh bertato).
g. Mengisi formulir 5 di tempat pendaftaran.
3. Waktu dan tempat pendaftaran : 27 Mei s/d 3 Juni 2008 di Puspronakes LN Depkes RI, Jln.Wijaya Kusuma Raya 48,Cilandak Jakarta Selatan,tlp 021 75914747 pswt 115 dan 021 7691531
4. Uji kompetensi tanggal : 5 Juni 2008 di Puspronakes LN Depkes RI Jakarta, biaya Rp 250.000,-. 5. Pengumuman kelulusan uji kompetensi : 6 Juni 2008 dan akan diterbitkan Surat Tanda Registrasi (STR) Keperawatan dalam bahasa Indonesia dan Inggris oleh Depkes RI. 6. Bagi yang lulus akan mengikuti test kesehatan / Medical Check Up tanggal 6-7 Juni 2008
7. Finalisasi nama peserta yang lulus seleksi Depkes RI : 8 Juni 2008, penyerahan berkas ke BNP2TKI tanggal 9 Juni 2008.
8. Prosedur seleksi selanjutnya akan dilaksanakan oleh BNP2TKI dan JICWELS (Japan International Corporation of Welfare Services) meliputi :
a. Tanggal 9-11 Juni 2008 :kelengkapan berkas administrasi meliputi persyaratan, keaslian dokumen, dan pemberitahuan jadual psiko test dan wawancara.
b. Tanggal 16-20 Juni 2008 : psikotest dan wawancara
c. Dilanjutkan dengan penyelesaian proses administrasi selanjutnya dan direncanakan dapat berangkat ke Jepang antara tanggal 3-9 Agustus 2008.
Sosialisasi program ini akan dilaksanakan oleh Depkes pada :
1. Tanggal 27 Mei 2008 jam 10.00 di Puspronakes LN Depkes RI Jakarta, tlp 021-75914747 pswt 115.
2. Tanggal 27 Mei 2008 jam 10.00 di Dinkes Prov Sumut di Medan, tlp 061-4524550, 4530406
3. Tanggal 28 Mei 2008 jam 10.00 di Dinkes Prov Jatim di Surabaya, 031-8294748
4. Tanggal 28 Mei 2008 jam 09.00 di Poltekkes Yogyakarta,tlp 0274-617679.
5. Tanggal 29 Mei 2008 jam 10.00 di STIKES YARSI Cirebon, tlp 0231-3387122
PENGUMUMAN
Nomor : KM.01.03.6.2.1884/2008
PROGRAM PENEMPATAN PERAWAT INDONESIA KE JEPANG
Sebagai realisasi dari kesepakatan G to G antara Pemerintah Indonesia dan Jepang dalam kerangka IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement) yang telah ditandatangani di Jakarta pada tanggal 19 Mei 2008, maka Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan RI membuka kesempatan bagi perawat Indonesia untuk bekerja sebagai Perawat (Kangoshi) di Jepang.
Bagi perawat yang lulus seleksi (diharapkan 240 orang perawat) akan diberangkatkan ke Jepang pada bulan Agustus 2008 dengan masa kontrak kerja selama 3 tahun dengan starting salary sekitar 200.000-250.000 yen atau Rp 17,9 juta.
Persyaratan dan prosedur pendaftaran :
1. Perawat Indonesia, laki-laki dan wanita, usia 21 รก~ E35 tahun, lulusan D-3 /S-1 Keperawatan tahun 2005 atau sebelumnya dengan pengalaman kerja di klinik/RS sebagai perawat min 2 tahun.
2. Berkas yang diperlukan (masukkan dalam 1 map berwarna merah) :
a. Fotocopy Ijazah dan transkrip nilai akademik yang sudah dilegalisir (bahasa Indonesia) dan yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris (dari institusi pendidikannya atau penterjemah resmi)
b. Fotocopy surat keterangan pengalaman kerja minimal 2 tahun dalam bahasa Indonesia dan terjemahan dalam bahasa Inggris.
c. Fotocopy KTP, Surat Keterangan Catatan Kepolisian/SKCK (asli), Kartu tanda pencari kerja/Kartu kuning (asli dan fotocopy yang dilegalisir oleh Disnakertrans).
d. Surat Ijin dari suami/istri/orangtua/wali yang diketahui oleh Ketua RW/Lurah/Kepala Desa.
e. Pasfoto terbaru latar belakang biru ukuran 3x4 cm = 4 lembar.
f. Good performance (bagi wanita tidak dalam keadaan hamil, bagi pria tidak bertindik, dan baik pria maupun wanita tidak boleh bertato).
g. Mengisi formulir 5 di tempat pendaftaran.
3. Waktu dan tempat pendaftaran : 27 Mei s/d 3 Juni 2008 di Puspronakes LN Depkes RI, Jln.Wijaya Kusuma Raya 48,Cilandak Jakarta Selatan,tlp 021 75914747 pswt 115 dan 021 7691531
4. Uji kompetensi tanggal : 5 Juni 2008 di Puspronakes LN Depkes RI Jakarta, biaya Rp 250.000,-. 5. Pengumuman kelulusan uji kompetensi : 6 Juni 2008 dan akan diterbitkan Surat Tanda Registrasi (STR) Keperawatan dalam bahasa Indonesia dan Inggris oleh Depkes RI. 6. Bagi yang lulus akan mengikuti test kesehatan / Medical Check Up tanggal 6-7 Juni 2008
7. Finalisasi nama peserta yang lulus seleksi Depkes RI : 8 Juni 2008, penyerahan berkas ke BNP2TKI tanggal 9 Juni 2008.
8. Prosedur seleksi selanjutnya akan dilaksanakan oleh BNP2TKI dan JICWELS (Japan International Corporation of Welfare Services) meliputi :
a. Tanggal 9-11 Juni 2008 :kelengkapan berkas administrasi meliputi persyaratan, keaslian dokumen, dan pemberitahuan jadual psiko test dan wawancara.
b. Tanggal 16-20 Juni 2008 : psikotest dan wawancara
c. Dilanjutkan dengan penyelesaian proses administrasi selanjutnya dan direncanakan dapat berangkat ke Jepang antara tanggal 3-9 Agustus 2008.
Sosialisasi program ini akan dilaksanakan oleh Depkes pada :
1. Tanggal 27 Mei 2008 jam 10.00 di Puspronakes LN Depkes RI Jakarta, tlp 021-75914747 pswt 115.
2. Tanggal 27 Mei 2008 jam 10.00 di Dinkes Prov Sumut di Medan, tlp 061-4524550, 4530406
3. Tanggal 28 Mei 2008 jam 10.00 di Dinkes Prov Jatim di Surabaya, 031-8294748
4. Tanggal 28 Mei 2008 jam 09.00 di Poltekkes Yogyakarta,tlp 0274-617679.
5. Tanggal 29 Mei 2008 jam 10.00 di STIKES YARSI Cirebon, tlp 0231-3387122
PADAMU KU TITIP CINTA.....
Baca Selengkapnya..
nissa_alfarisi@yahoo.com
Entah kenapa dan sejak kapan ada sesuatu yang terasa indah bermain-main dalam hatiku.
Aku sendiri terlambat menyadarinya. Saat rasa itu hadir, terus terang aku menjadi bingung untuk bersikap, aku tak tahu harus bagaimana. Namun kepergianmu membuatku yakin, bahwa ini sudah menjadi keputusanNya.
Aku merasa telah mengotori cintaku padaNya dengan meghadirkan sesuatu yang lain, padahal aku berusaha untuk menjadi orang yang senantiasa hidup dengan kemuliaan dan mati dalam kesyahidan. Maafkanlah aku yang terlalu jujur mengungkapkan ini semua, tapi utuk mengingatkanku sendiri bahwa hanya ada satu cinta, cinta kepada Sang Kholiq, cinta yang indah, cinta abadi, dan bukan sekedar cinta yang semu.
Ku berharap dengan semua rasa ini, tidak menjadikanku orang yang sentimentil, dan meninggalkan semua amanah ini. Aku akan berusaha tegar dan memahami akan hal ini.
Medan dakwah memang menuntutku untuk mempersiapkan diri terutama hati ini dengan lebih baik.
Sesunggunya akupun tak menghendaki dan tak sanggup menghilangkannya. ku hanya mencoba memahami, bagaimana membingkainyaagar tidak menjadi pelanggran dan kefatalan. Aku yakin aku bisa keluar dari kondisi ini, Ada satu untaian yang membekas dan menguatkan dalam hatiku yaitu "dalam hati anak adam, tidak boleh ada dua cinta, Karna Allah akan murka dan cemburu".
Hanya, jika seseorang menetapkan cinta itu untuk Allah, maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan yang lebih suci. Para malaikat akan senantiasa mendoakan.
darinya Allah memberikan keturunan yang menjadi penghibur baginya di dunia. cinta itu menjadi cahaya baginya di alam kubur dan menjadi kebahagiaan baginya di akhirat kelak.
bukankah itu adalah cita-cita setiap insan?? Semoga aku dapat mengerti.
Sahabat, kepergianmu meninggalkan sejuta rasa, bahagia, duka,dan... aku malu.. malu padamu, aku iri padamu yang kini telah mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Sang Kekasih, dan kau telah mendapatkan kemuliaanNya. Sedangkan aku? menghadapi mautpun aku masih takut. Terimakasih ya Allah, Kau telah tunjukan jalanya. hamba mohon luruskan dan bersihkan 'cinta' itu didalam diri hamba.
Ada pepatah mengatakan "CINTA ITU FITRAH, DAN JANGAN KAU BUNUH CINTA ITU"
Jika demikian, biarkan ini bersemayam demi cintaku padaMu.
Sahabat, kepadamu cinta ini ku titipkan, Cinta suci kepada sang pencipta. Selamat jalan, Semoga Allh menyatukan kita dalam barisan orang-orang yang teguh dalam perjuangan
Entah kenapa dan sejak kapan ada sesuatu yang terasa indah bermain-main dalam hatiku.
Aku sendiri terlambat menyadarinya. Saat rasa itu hadir, terus terang aku menjadi bingung untuk bersikap, aku tak tahu harus bagaimana. Namun kepergianmu membuatku yakin, bahwa ini sudah menjadi keputusanNya.
Aku merasa telah mengotori cintaku padaNya dengan meghadirkan sesuatu yang lain, padahal aku berusaha untuk menjadi orang yang senantiasa hidup dengan kemuliaan dan mati dalam kesyahidan. Maafkanlah aku yang terlalu jujur mengungkapkan ini semua, tapi utuk mengingatkanku sendiri bahwa hanya ada satu cinta, cinta kepada Sang Kholiq, cinta yang indah, cinta abadi, dan bukan sekedar cinta yang semu.
Ku berharap dengan semua rasa ini, tidak menjadikanku orang yang sentimentil, dan meninggalkan semua amanah ini. Aku akan berusaha tegar dan memahami akan hal ini.
Medan dakwah memang menuntutku untuk mempersiapkan diri terutama hati ini dengan lebih baik.
Sesunggunya akupun tak menghendaki dan tak sanggup menghilangkannya. ku hanya mencoba memahami, bagaimana membingkainyaagar tidak menjadi pelanggran dan kefatalan. Aku yakin aku bisa keluar dari kondisi ini, Ada satu untaian yang membekas dan menguatkan dalam hatiku yaitu "dalam hati anak adam, tidak boleh ada dua cinta, Karna Allah akan murka dan cemburu".
Hanya, jika seseorang menetapkan cinta itu untuk Allah, maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan yang lebih suci. Para malaikat akan senantiasa mendoakan.
darinya Allah memberikan keturunan yang menjadi penghibur baginya di dunia. cinta itu menjadi cahaya baginya di alam kubur dan menjadi kebahagiaan baginya di akhirat kelak.
bukankah itu adalah cita-cita setiap insan?? Semoga aku dapat mengerti.
Sahabat, kepergianmu meninggalkan sejuta rasa, bahagia, duka,dan... aku malu.. malu padamu, aku iri padamu yang kini telah mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Sang Kekasih, dan kau telah mendapatkan kemuliaanNya. Sedangkan aku? menghadapi mautpun aku masih takut. Terimakasih ya Allah, Kau telah tunjukan jalanya. hamba mohon luruskan dan bersihkan 'cinta' itu didalam diri hamba.
Ada pepatah mengatakan "CINTA ITU FITRAH, DAN JANGAN KAU BUNUH CINTA ITU"
Jika demikian, biarkan ini bersemayam demi cintaku padaMu.
Sahabat, kepadamu cinta ini ku titipkan, Cinta suci kepada sang pencipta. Selamat jalan, Semoga Allh menyatukan kita dalam barisan orang-orang yang teguh dalam perjuangan
Diposting oleh Alumni HARISMA
Label: asal-muasal, bandung, berita, dakwah, sekolah
BERSAHABAT DENGAN BUKAN MUHRIM
Baca Selengkapnya..
nissa_alfarisi@yahoo.com
Masalah bergaul dengan anak laki-laki itu boleh saja, asal Ukhti pandai menjaga diri dan menjaga jarak. Tidak usah terlalu dekat sehingga ada kesan memberi harapan sebab, sekalipun ukhti menganggap biasa seperti kakak sendiri, tapi itu khan menurut ukhti??
Tapi menurut si dia belum tentu demikian.
Banyak terjadi, orang yang dianggap seperti tidak ada apa-apa, ternyata malah menjadi sumber bencana. Oleh karena itu klo memang bukan muhrim, tidak usah terlalu akrab apalagi kaloo kelewat percaya.
Ingat, banyak pagar makan tanaman. Masalah muhrim, untuk lebih jelasnya lihat QS. Annur ayat 31. Semoga ukhti bisa memahami....
Masalah bergaul dengan anak laki-laki itu boleh saja, asal Ukhti pandai menjaga diri dan menjaga jarak. Tidak usah terlalu dekat sehingga ada kesan memberi harapan sebab, sekalipun ukhti menganggap biasa seperti kakak sendiri, tapi itu khan menurut ukhti??
Tapi menurut si dia belum tentu demikian.
Banyak terjadi, orang yang dianggap seperti tidak ada apa-apa, ternyata malah menjadi sumber bencana. Oleh karena itu klo memang bukan muhrim, tidak usah terlalu akrab apalagi kaloo kelewat percaya.
Ingat, banyak pagar makan tanaman. Masalah muhrim, untuk lebih jelasnya lihat QS. Annur ayat 31. Semoga ukhti bisa memahami....
Kumpulan Alumni
Baca Selengkapnya..
Assalamualaikum Wr.Wb
Sahabat,pa kabar? mudah-mudahan sehat y...
oia saya mendapatkan amanah dari sahabat melalui sms,yang berisi berita akan ada kumpulan di antara anggota Harisma dan Alumni Harisma dan akan dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2008 bertempat di Sekolah SMA Negeri 3 Tasikmalaya, Jl. Letkol Basyir Surya No.89 Telp. 0265-334889 Tasikmalaya
Hasil dari Kumpulan tersebut bisa sahabat kirim ke lembah.alvaras@gmail.com
Insyaallah akan saya tampilkan di blog...
Diposting oleh Alumni HARISMA
Label: asal-muasal, berita, sekolah
I am The Winner (motifasi menghadapi ujian atau UAN)
Baca Selengkapnya..
Oleh : dae
Seorang pecundang akan berkata “Ini mungkin, tapi sulit” sedangkan seorang pemenang akan berkata “Ini sulit, tapi mungkin”
Sekarang kita tinggal memilih, kita akan menjadi siapa? Seorang pecundang atau seorang pemenang? Seorang pecundang yang hanya dengan melihat saja sudah menyerah, pasang kuda – kuda dan dalam hitungan ketiga lari menjauh. Seorang pecundang yang patah semangat, hilang kepercayaan diri, takut, dan percaya bahwa apa yang dilakukan akan percuma saja bahkan gatot (gagal total). Ataukah seorang pemenang, seorang pemenang yang percaya bahwa dia akan berhasil, dengan semangat, usaha, kerja keras, dan do’a dia percaya mampu menaklukkan dunia. Selanjutnya? Terserah anda!
Penulis yakin bahwa semua akan memilih menjadi seorang pemenang, karena memilih menjadi pemenang atau pecundang tidak sulit, sangat mudah hanya dengan memilih. Namun dalam pelaksanaan sulit untuk diterapkan.
Hidup adalah sumber masalah, pertempuran atau bahakan medan perang yang tidak akan pernah berhenti. Sejak kita lahir hingga membaca tulisan ini, semuanya pertempuran. Pertempuran melawan ketidakmampuan, ketidakberdayaan, dan juga pertempuran melawan ketidak maha tahuan kita.
Kita tercipta menjadi seorang pemenang sayangnya kita sendiri menjadikan diri kita seorang pecundang. Bagaimana tidak waktu kita kecil kita tidak mampu berbuat apa – apa, yang bisa kita lakukan hanya menangis. Lihatlah diri kita sekarang, kita bisa berjalan bahkan berlari, kita bisa makan bahkan membuat makanan, kita bisa berbicara bahkan bernyanyi. Coba banyangkan apa yang akan terjadi apabila sejak kita terlahir kita menjadi seorang pecundang yang takut belajar berjalan karena takut jatuh, yang takut makan sendiri karena takut belepotan dan ketakutan – ketakutan yang lain. Mungkin manusia akan punah karena tak mampu berbuat apa – apa.
Apabila kita tercipta menjadi seorang pemenang, mengapa kita rubah diri kita menjadi seorang pecundang. Pecundang yang mencari kambing hitam atas kesalahannya, pecundang yang bila diberi penghalang akan berbalik arah, pecundang yang selalu mencari jalan pintas atas semua kesulitan, pecundang yang ingin sukses tanpa kerja keras dan pecundang yang selalu menunggu keajaiban turun dari langit.
Salah satu rintangan akan kita hadapi [UAS, UAN, Ujian semester], satu rintangan yang sangat mudah dibandingkan rintangan – rintangan yang akan kita hadapi dihari yang akan datang. Inilah saatnya kita menentukan menjadi siapakah kita? Seorang pecundang atau menjadi seorang pemenang? Pemenang yang dengan sepenuh hati percaya bahwa dia akan menang, pemenang yang sadar bahwa keajaiban tidak datang dengan sendirinya melainkan dengan usaha dan kerja keras, pemenang yang tidak akan berbalik arah hanya karena ada penghalang didepannya, pemenang yang tidak akan bingung tuk mencari jalan pintas karena dia tahu dia berada di jalan yang benar, pemenang yang selalu menambah bekalnya untuk menemani perjalanannya, dan pemenang yang tidak akan membohongi diri sendiri dan orang lain tuk berbuat curang.
Jika kita memilih menjadi pemenang, masih ada waktu tuk menyiapkan semua bekal, masih ada waktu tuk menyingkirkan semua rintangan, masih ada waktu tuk mengubah pikiran kita terutama tentang apa yang kita pikirkan tentang diri kita.
And the last:
U ar what u think! So, u must believe that u ar the winner!! If u believe it, u’ll be the big winner!!
S’mangat!!
(http://www.dudung.net)
Seorang pecundang akan berkata “Ini mungkin, tapi sulit” sedangkan seorang pemenang akan berkata “Ini sulit, tapi mungkin”
Sekarang kita tinggal memilih, kita akan menjadi siapa? Seorang pecundang atau seorang pemenang? Seorang pecundang yang hanya dengan melihat saja sudah menyerah, pasang kuda – kuda dan dalam hitungan ketiga lari menjauh. Seorang pecundang yang patah semangat, hilang kepercayaan diri, takut, dan percaya bahwa apa yang dilakukan akan percuma saja bahkan gatot (gagal total). Ataukah seorang pemenang, seorang pemenang yang percaya bahwa dia akan berhasil, dengan semangat, usaha, kerja keras, dan do’a dia percaya mampu menaklukkan dunia. Selanjutnya? Terserah anda!
Penulis yakin bahwa semua akan memilih menjadi seorang pemenang, karena memilih menjadi pemenang atau pecundang tidak sulit, sangat mudah hanya dengan memilih. Namun dalam pelaksanaan sulit untuk diterapkan.
Hidup adalah sumber masalah, pertempuran atau bahakan medan perang yang tidak akan pernah berhenti. Sejak kita lahir hingga membaca tulisan ini, semuanya pertempuran. Pertempuran melawan ketidakmampuan, ketidakberdayaan, dan juga pertempuran melawan ketidak maha tahuan kita.
Kita tercipta menjadi seorang pemenang sayangnya kita sendiri menjadikan diri kita seorang pecundang. Bagaimana tidak waktu kita kecil kita tidak mampu berbuat apa – apa, yang bisa kita lakukan hanya menangis. Lihatlah diri kita sekarang, kita bisa berjalan bahkan berlari, kita bisa makan bahkan membuat makanan, kita bisa berbicara bahkan bernyanyi. Coba banyangkan apa yang akan terjadi apabila sejak kita terlahir kita menjadi seorang pecundang yang takut belajar berjalan karena takut jatuh, yang takut makan sendiri karena takut belepotan dan ketakutan – ketakutan yang lain. Mungkin manusia akan punah karena tak mampu berbuat apa – apa.
Apabila kita tercipta menjadi seorang pemenang, mengapa kita rubah diri kita menjadi seorang pecundang. Pecundang yang mencari kambing hitam atas kesalahannya, pecundang yang bila diberi penghalang akan berbalik arah, pecundang yang selalu mencari jalan pintas atas semua kesulitan, pecundang yang ingin sukses tanpa kerja keras dan pecundang yang selalu menunggu keajaiban turun dari langit.
Salah satu rintangan akan kita hadapi [UAS, UAN, Ujian semester], satu rintangan yang sangat mudah dibandingkan rintangan – rintangan yang akan kita hadapi dihari yang akan datang. Inilah saatnya kita menentukan menjadi siapakah kita? Seorang pecundang atau menjadi seorang pemenang? Pemenang yang dengan sepenuh hati percaya bahwa dia akan menang, pemenang yang sadar bahwa keajaiban tidak datang dengan sendirinya melainkan dengan usaha dan kerja keras, pemenang yang tidak akan berbalik arah hanya karena ada penghalang didepannya, pemenang yang tidak akan bingung tuk mencari jalan pintas karena dia tahu dia berada di jalan yang benar, pemenang yang selalu menambah bekalnya untuk menemani perjalanannya, dan pemenang yang tidak akan membohongi diri sendiri dan orang lain tuk berbuat curang.
Jika kita memilih menjadi pemenang, masih ada waktu tuk menyiapkan semua bekal, masih ada waktu tuk menyingkirkan semua rintangan, masih ada waktu tuk mengubah pikiran kita terutama tentang apa yang kita pikirkan tentang diri kita.
And the last:
U ar what u think! So, u must believe that u ar the winner!! If u believe it, u’ll be the big winner!!
S’mangat!!
(http://www.dudung.net)
BBS?
Baca Selengkapnya..
Yups.....dari judulnya juga membuat kita bertanya-tanya,apa sich BBS, BBs adalah singkatan dari Bandung Bussines School yaitu salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung,kampus yang berlokasi di jalan Buah Batu no 26 ini adalah kampus yang memfouskan mahasiswanya untuk belajar menjadi enterpreneur yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.Nama asli dari BBs adalah STEMBI Bandung (Sekolah Tinggi Manajemen Bisnis Bandung),Kalo pengen jelas berikut data-data Bandung Bussines School...:
.png)
STEMBI (Bandung Bussines School)
Didirikan pada tahun 1997 dengan izin melalui Surat Keputusan Dirjen Dikti No। 52/D/O/1997 tanggal 25 Agustus 1997 tentang pemberian Status Terdaftar bagi Program Studi Akuntansi dan Manajemen Jenjang Strata Satu (S1) dan Diploma Tiga (D3)। Dengan pedoman SK DIKTI tersebut, penyelenggaraan kegiatan proses belajar mengajar dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab di tengah dinamika lingkungan yang selalu berubah
Berdasarkan akreditasi yang dilaksanakan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) pada tahun 2006, Program Studi Akuntansi (S1) dinyatakan terakreditasi "B" dengan Surat Ketetapan BANPT Nomor 028/BANPT/AK-IX /SI/I/06। Program Studi Manajemen (S1) dinyatakan terakreditasi "B" berdasarkan Surat Ketetapan BAN-PT Nomor : 028/BAN-PT/AK-IX/SI/XI/06। Sedangkan untuk program Diploma Tiga (D3) Akuntansi dinyatakan "B" dengan Surat Ketetapan No। : 014/BANPT/AK-VI/Dpl-III/X/2006 dan untuk Program Manajemen (D3) mendapat akreditasi "C" dengan Surat Ketetapan No. : 013/BAN-PT/Ak-VI/Dpl-III/X/2003.
Guna menjawab tantangan perkembangan dunia akademik dan lingkungan, Bandung Bussines School terus melakukan perkembangan-perkembangan akademik yang relevan oleh karena itu dikembangkanlah konsentrasi keilmuan dari tiap program studi yang diselenggarakan.
Program Studi Akuntansi menyelenggarakan konsentrasi :
Akuntansi Keuangan, Akunansi Perpajakan, Auditing, Akuntansi Perbankan, Akuntansi Syariah Komputer Akuntansi, Akuntansi Pasar.
Program Studi Manajemen menyelenggarakan konsentrasi :
Manajemen Industri, Manajemen Syariah, Manajemen SDM, Manajemen Pemasaran, Manajemen Bisnis Internasional, Manajemen Informatika, Manajemen Rumah Sakit.
Visi STEMBI Bandung
Menjadi salah satu pelopor perguruan tinggi yang memfokuskan pada penciptaan wira-usahawan baru yang berintelektual dan berahklakul kharimah.
Misi STEMBI Bandung
Meciptakan lulusan yang kelak tidak hanya mampu dan siap mengembangkan ilmu dibidang akuntansi atau manajamen tetapi juga mampu dan siap membuka lapangan pekerjaan baru bagi orang lain
Alasan Kuliah
1. Perguruan tinggi bisnis pertama di Indonesia dan hanya di Bandung.
2. Pemenang pertama Accounting Competition 2005 Se-Jabar Banten, dengan memperoleh peringkat 20 di tingkar Nasional.
3. Pemenang Management Competition 1999 tingkat Jabar.
4. Terakreditasi “B” oleh BAN-PT.
5. Terdapat Program Ikatan Dinas dan Beasiswa.Focus pendidikan pada praktek bisnis (bussines skill), pengembangan ilmu (knowledge development), studi kelayakan bisnis (bussines simulation), dan kemampuan komunikasi bisnis (bussines communication skill).
6. Kurikulum secara periodic dirancang ulang untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu agar standar kualitas global dapat tercapai.
7. Staf pengajar terbaik dari dalam negeri yang mempunyai pengalaman berbisnis.
8. Sekolah unggulan berbasis kompetensi bisnis.
9. Proses belajar sangat optimal dengan adanya semester pendek, waktu kuliah singkat : S1 = 3 tahun, D3 = 2 tahun dan D1 = 8 bulan.
10. Guna menunjang keahlian mahasiswa, setiap semester diberikan secara optimal dan berkesinambungan sehingga kualitas ilmu dan iman dapat tercapai.
11. Kampus Bebas dari Narkoba dan Perilaku Free Sex
Program Unggulan
Ikatan Dinas dan Beasiswa
Fasilitas :
1. Tunjangan biaya kuliah
2. Lulus dengan mendapatkan penempatan kerja
Syarat pendaftaran :
1. Fotocopy izajah SLTA / sederajat (dilegalisir) sebanyak 2 lembar
2. Pas Foto 2 x 3 = 4 lembar, 3 x 4 = 2 lembar, 2 x 3 = 1 lembar.
3. Mengisi formulir pendaftaran
Program Studi
Akuntansi S1
Akuntansi dengan Konsentrasi :
1. Akuntansi Syariah
2. Sistem Informasi Akuntansi
3. Auditing
4. Akuntansi Perpajakan
5. Akuntansi Perbankan
6. Akuntansi Pasar Modal
7. Akuntansi Keuangan
8. Akuntansi Rumah Sakit
Manajemen S1
Manajemen dengan Konsentrasi :
1. Manajemen Syariah
2. Manajemen Industri
3. Manajemen Keuangan
4. Manajemen SDM
5. Manajemen Pemasaran
6. ManajemenBisnis Internasional
7. Manajemen Informatika
8. Manajemen Rumah Sakit
Jenjang Dilpoma 3 (D3)
Akuntansi dengan Konsentrasi :
1. Perpajakan
2. Sistem Informasi
3. Export-Import
4. Auditing
Manajemen dengan Konsentrasi :
1. Sekertaris
2. Public Relation
3. Retail
4. Export-Import
Jenjang Diploma Satu (D1)
1. Diploma In English Language (dE)
2. Diploma In Accounting Computer (dAC)
3. Diploma In Management Computer (dMC)
4. Diploma In Bussines Administration (dBA)
5. Diploma In Bussines Skill (dB
Beban Studi dan Waktu Studi
Mahasiswa Baru :
{Jenjang S1 : Beban Studi : 144 SKS, Lama Pendidikan : 3 - 4,5 tahun}
{Jenjang D3 : Beban Studi : 112 SKS, Lama Pendidikan : 2 - 3,5 tahun}
{Jenjang D1 : Beban Studi : 40 SKS, Lama Pendidikan : 8 - 12 bulan}
Mahasiswa Pindahan :
{Jenjang S1 : Beban Studi : Minimal 50 SKS, Lama Pendidikan : 3 - 4,5 tahun}
{Jenjang D3 : Beban Studi :Minimal 18 SKS, Lama Pendidikan : 2 - 3,5 tahun
Biaya Kuliah
Biaya DPP, Seminar, & Atribut dibayar sekali selama kuliah sebesar Rp. 3.000.000,- (S1), Rp. 2.000.000, (D3), dapat dicicil selama maksimal 4 semester.
Total biaya D1 hingga selesai sebesar Rp. 3.500.000,- dipotong beasiswa Rp. 1.400.000, bagi rangking 1-10 atau yang mempunyai nilai rata-rata izajah >7 atau nilai rapor kelas 3 semester ke-II >7, menjadi Rp. 2.000.000,-
Biaya semester pendek ditetapkan berdasarkan beban SKS yang dikontrak dengan baiaya sebesar Rp. 75.000,- per SKS.
Biaya SPP sudah termasuk Internet, Modul, dan Biaya Ujian.
Biaya Kuliah
Program : D3 Pagi Biaya SPP/Semester : Rp. 1.500.000,-
Total Semester I : Rp. 2.500.000,-
Program :D3 Sore Biaya SPP/Semester : Rp. 1.750.000,-
Total Semester I : Rp. 2.750.000,-
Program : S1 Pagi Biaya SPP/Semester : Rp. 2.000.000,-
Total Semester I : Rp. 3.300.000,-
Program : S1 Sore Biaya SPP/Semester : Rp. 2.250.000,-
Total Semester I : Rp. 3.550.000,-
Program : S1 Weekend/Shift Biaya SPP/Semester : Rp. 2.500.000,-
Total Semester I : Rp. 2.500.000,-
Waktu Pendaftaran
Pendaftaran di buka setiap hari pada jam kerja, yaitu :
Senin - Jum'at : pkl. 08.00 - 19.30 wib
Sabtu : 08.00 - 17.00
Minggu : 08.00 - 14.00
Sedangkan untuk perkuliahan dimulai pada bulan Februari, September dan November.
Yups.....dari judulnya juga membuat kita bertanya-tanya,apa sich BBS, BBs adalah singkatan dari Bandung Bussines School yaitu salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung,kampus yang berlokasi di jalan Buah Batu no 26 ini adalah kampus yang memfouskan mahasiswanya untuk belajar menjadi enterpreneur yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.Nama asli dari BBs adalah STEMBI Bandung (Sekolah Tinggi Manajemen Bisnis Bandung),Kalo pengen jelas berikut data-data Bandung Bussines School...:
.png)
STEMBI (Bandung Bussines School)
Didirikan pada tahun 1997 dengan izin melalui Surat Keputusan Dirjen Dikti No। 52/D/O/1997 tanggal 25 Agustus 1997 tentang pemberian Status Terdaftar bagi Program Studi Akuntansi dan Manajemen Jenjang Strata Satu (S1) dan Diploma Tiga (D3)। Dengan pedoman SK DIKTI tersebut, penyelenggaraan kegiatan proses belajar mengajar dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab di tengah dinamika lingkungan yang selalu berubah
Berdasarkan akreditasi yang dilaksanakan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) pada tahun 2006, Program Studi Akuntansi (S1) dinyatakan terakreditasi "B" dengan Surat Ketetapan BANPT Nomor 028/BANPT/AK-IX /SI/I/06। Program Studi Manajemen (S1) dinyatakan terakreditasi "B" berdasarkan Surat Ketetapan BAN-PT Nomor : 028/BAN-PT/AK-IX/SI/XI/06। Sedangkan untuk program Diploma Tiga (D3) Akuntansi dinyatakan "B" dengan Surat Ketetapan No। : 014/BANPT/AK-VI/Dpl-III/X/2006 dan untuk Program Manajemen (D3) mendapat akreditasi "C" dengan Surat Ketetapan No. : 013/BAN-PT/Ak-VI/Dpl-III/X/2003.
Guna menjawab tantangan perkembangan dunia akademik dan lingkungan, Bandung Bussines School terus melakukan perkembangan-perkembangan akademik yang relevan oleh karena itu dikembangkanlah konsentrasi keilmuan dari tiap program studi yang diselenggarakan.
Program Studi Akuntansi menyelenggarakan konsentrasi :
Akuntansi Keuangan, Akunansi Perpajakan, Auditing, Akuntansi Perbankan, Akuntansi Syariah Komputer Akuntansi, Akuntansi Pasar.
Program Studi Manajemen menyelenggarakan konsentrasi :
Manajemen Industri, Manajemen Syariah, Manajemen SDM, Manajemen Pemasaran, Manajemen Bisnis Internasional, Manajemen Informatika, Manajemen Rumah Sakit.
Visi STEMBI Bandung
Menjadi salah satu pelopor perguruan tinggi yang memfokuskan pada penciptaan wira-usahawan baru yang berintelektual dan berahklakul kharimah.
Misi STEMBI Bandung
Meciptakan lulusan yang kelak tidak hanya mampu dan siap mengembangkan ilmu dibidang akuntansi atau manajamen tetapi juga mampu dan siap membuka lapangan pekerjaan baru bagi orang lain
Alasan Kuliah
1. Perguruan tinggi bisnis pertama di Indonesia dan hanya di Bandung.
2. Pemenang pertama Accounting Competition 2005 Se-Jabar Banten, dengan memperoleh peringkat 20 di tingkar Nasional.
3. Pemenang Management Competition 1999 tingkat Jabar.
4. Terakreditasi “B” oleh BAN-PT.
5. Terdapat Program Ikatan Dinas dan Beasiswa.Focus pendidikan pada praktek bisnis (bussines skill), pengembangan ilmu (knowledge development), studi kelayakan bisnis (bussines simulation), dan kemampuan komunikasi bisnis (bussines communication skill).
6. Kurikulum secara periodic dirancang ulang untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu agar standar kualitas global dapat tercapai.
7. Staf pengajar terbaik dari dalam negeri yang mempunyai pengalaman berbisnis.
8. Sekolah unggulan berbasis kompetensi bisnis.
9. Proses belajar sangat optimal dengan adanya semester pendek, waktu kuliah singkat : S1 = 3 tahun, D3 = 2 tahun dan D1 = 8 bulan.
10. Guna menunjang keahlian mahasiswa, setiap semester diberikan secara optimal dan berkesinambungan sehingga kualitas ilmu dan iman dapat tercapai.
11. Kampus Bebas dari Narkoba dan Perilaku Free Sex
Program Unggulan
Ikatan Dinas dan Beasiswa
Fasilitas :
1. Tunjangan biaya kuliah
2. Lulus dengan mendapatkan penempatan kerja
Syarat pendaftaran :
1. Fotocopy izajah SLTA / sederajat (dilegalisir) sebanyak 2 lembar
2. Pas Foto 2 x 3 = 4 lembar, 3 x 4 = 2 lembar, 2 x 3 = 1 lembar.
3. Mengisi formulir pendaftaran
Program Studi
Akuntansi S1
Akuntansi dengan Konsentrasi :
1. Akuntansi Syariah
2. Sistem Informasi Akuntansi
3. Auditing
4. Akuntansi Perpajakan
5. Akuntansi Perbankan
6. Akuntansi Pasar Modal
7. Akuntansi Keuangan
8. Akuntansi Rumah Sakit
Manajemen S1
Manajemen dengan Konsentrasi :
1. Manajemen Syariah
2. Manajemen Industri
3. Manajemen Keuangan
4. Manajemen SDM
5. Manajemen Pemasaran
6. ManajemenBisnis Internasional
7. Manajemen Informatika
8. Manajemen Rumah Sakit
Jenjang Dilpoma 3 (D3)
Akuntansi dengan Konsentrasi :
1. Perpajakan
2. Sistem Informasi
3. Export-Import
4. Auditing
Manajemen dengan Konsentrasi :
1. Sekertaris
2. Public Relation
3. Retail
4. Export-Import
Jenjang Diploma Satu (D1)
1. Diploma In English Language (dE)
2. Diploma In Accounting Computer (dAC)
3. Diploma In Management Computer (dMC)
4. Diploma In Bussines Administration (dBA)
5. Diploma In Bussines Skill (dB
Beban Studi dan Waktu Studi
Mahasiswa Baru :
{Jenjang S1 : Beban Studi : 144 SKS, Lama Pendidikan : 3 - 4,5 tahun}
{Jenjang D3 : Beban Studi : 112 SKS, Lama Pendidikan : 2 - 3,5 tahun}
{Jenjang D1 : Beban Studi : 40 SKS, Lama Pendidikan : 8 - 12 bulan}
Mahasiswa Pindahan :
{Jenjang S1 : Beban Studi : Minimal 50 SKS, Lama Pendidikan : 3 - 4,5 tahun}
{Jenjang D3 : Beban Studi :Minimal 18 SKS, Lama Pendidikan : 2 - 3,5 tahun
Biaya Kuliah
Biaya DPP, Seminar, & Atribut dibayar sekali selama kuliah sebesar Rp. 3.000.000,- (S1), Rp. 2.000.000, (D3), dapat dicicil selama maksimal 4 semester.
Total biaya D1 hingga selesai sebesar Rp. 3.500.000,- dipotong beasiswa Rp. 1.400.000, bagi rangking 1-10 atau yang mempunyai nilai rata-rata izajah >7 atau nilai rapor kelas 3 semester ke-II >7, menjadi Rp. 2.000.000,-
Biaya semester pendek ditetapkan berdasarkan beban SKS yang dikontrak dengan baiaya sebesar Rp. 75.000,- per SKS.
Biaya SPP sudah termasuk Internet, Modul, dan Biaya Ujian.
Biaya Kuliah
Program : D3 Pagi Biaya SPP/Semester : Rp. 1.500.000,-
Total Semester I : Rp. 2.500.000,-
Program :D3 Sore Biaya SPP/Semester : Rp. 1.750.000,-
Total Semester I : Rp. 2.750.000,-
Program : S1 Pagi Biaya SPP/Semester : Rp. 2.000.000,-
Total Semester I : Rp. 3.300.000,-
Program : S1 Sore Biaya SPP/Semester : Rp. 2.250.000,-
Total Semester I : Rp. 3.550.000,-
Program : S1 Weekend/Shift Biaya SPP/Semester : Rp. 2.500.000,-
Total Semester I : Rp. 2.500.000,-
Waktu Pendaftaran
Pendaftaran di buka setiap hari pada jam kerja, yaitu :
Senin - Jum'at : pkl. 08.00 - 19.30 wib
Sabtu : 08.00 - 17.00
Minggu : 08.00 - 14.00
Sedangkan untuk perkuliahan dimulai pada bulan Februari, September dan November.
Sekolah bisnis....
Baca Selengkapnya..
SWA: Survei SWA-MARS menghasilkan peringkat sekolah bisnis terbaik. Siapa saja mereka? Apa yang membuat mereka dipersepsikan terbaik? Apa yang diharapkan seseorang ketika memutuskan meraih gelar Magister Manajemen?
"Pendidikan ini akan menjadi investasi jangka panjang yang bermanfaat untuk pengembangan diri dan karier saya di masa mendatang, termasuk peningkatan pendapatan tentunya," demikian seorang mahasiswa MM Universitas Indonesia angkatan 2003 (sebut saja Eddy) mengungkap alasannya.
Ia optimistis, program yang sedang digelutinya saat ini dapat memperluas cara pandangnya dan wawasan ilmu pengetahuannya. Bahkan, "Saya berharap, pola pikir akan semakin terarah dan realistis.” Hal itu dimungkinkan, lantaran, "Ilmu yang kami pelajari di sini lebih bersifat terapan.” Begitulah pesona MM. Gelarnya dipandang menjadi selembar tiket untuk memperoleh peluang besar bekerja di perusahaan multinasional kelas atas, seperti IBM, General Electric, Ford Motor dan Unilever.
Di Indonesia, lulus sekolah MM juga diyakini menjadi simbol sukses dalam merentas karier. Gaji tinggi, fasilitas menarik dan jabatan bergengsi, seakan-akan terhampar di depan mata. Akibatnya, bukan hanya sekolah MM yang tumbuh subur. Lulusannya pun membanjiri pasar kerja. Sayangnya, kualitas mereka kini dipertanyakan karena banyak sekolah tinggi yang menawarkan program ini, tak jelas kredibilitasnya. Padahal, biaya sekolahnya jauh lebih tinggi daripada program pascasarjana lainnya. Sangat disayangkan bila sudah menguras tabungan, ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan. Berangkat dari alasan menampilkan sekolah bisnis yang bisa dipercaya, SWA bekerja sama dengan lembaga riset independen, MARS, melakukan survei untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang sekolah bisnis yang dianggap terbaik.
Dari persepsi yang terbentuk, selanjutnya dibuat peringkat sekolah bisnis terbaik. Survei ini dilakukan dari pertengahan Mei hingga akhir Juli lalu di tiga kota besar: Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Responden yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari kalangan calon mahasiswa, mahasiswa, alumni, user dan recruiter, yang jumlahnya mencapai 656 orang. Untuk memudahkan survei, responden dikelompokkan dalam dua panel. Panel 1, terdiri dari calon mahasiswa, mahasiswa dan alumni. Adapun Panel 2, user dan recruiter. Dalam hal ini, ada 13 sekolah bisnis yang ditanyakan ke para responden. Pengambilan sampel ke-13 sekolah bisnis tersebut didasarkan pada peringkat yang dikeluarkan Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Pendekatan yang dilakukan dalam survei ini mencakup tiga hal, brand awareness (top of mind), image study dan satisfaction study. Brand awareness bertujuan mengetahui sekolah bisnis mana yang paling kuat dikenal responden. Image study dilakukan untuk mengenali persepsi responden. Sementara satisfaction study, untuk mengetahui tingkat kepuasan. Hasilnya? Dilihat dari skor total Panel 1 dan 2, MM UI berhasil meraih peringkat teratas dengan perolehan 55,92.
Di peringkat kedua, bertengger STM Prasetiya Mulya dengan total score 48,08. Berikutnya, STM IPMI (41,07), MM Universitas Gadjah Mada (40,87) dan MM Institut Pertanian Bogor (38,96).
Peringkat sekolah bisnis terbaik selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Bila ditelusuri, atribut yang diukur dalam pengukuran skor meliputi: top of mind (TOM), best performance (sekolah bisnis terbaik menurut persepsi responden), image score (jumlah masing-masing image sesuai tingkat kepentingan menurut persepsi responden) dan satisfaction performance (tingkat kepuasan responden terhadap performa/kinerja sekolah bisnis yang dinilai).
Berdasarkan persepsi total pada Panel 1 -- meliputi empat atribut di atas -- MM UI menempati urutan pertama, dengan nilai TOM (28,30) dan image (72,54) tertinggi. Untuk kategori best performance dan satisfaction performance, MM UI masih di bawah yang lain. Di kategori best performance, nama yang muncul di peringkat pertama adalah IPMI, dengan skor 90,00. Di bawahnya, MM UI dan Prasetiya Mulya meraih nilai sama: 83,87. Untuk kategori satisfaction performance, Prasetiya Mulya memperoleh skor tertinggi, 73,00. Gambaran lengkap tentang persepsi total Panel 1 dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan data mentah yang diterima, ada beberapa alasan yang membuat responden pada Panel 1 mengatakan sekolah bisnis tersebut terbaik.
Dari puluhan jawaban yang ada, setidak-tidaknya ada lima alasan tertinggi, yaitu kurikulumnya lengkap sesuai tuntutan pasar/zaman (20,13%), dosen/stafnya berkualitas (19,29%), kampusnya terkenal (10,48%), fasilitasnya bagus (10,69%) dan lulusannya banyak yang diterima perusahaan terkenal (9,64%). Hal lain yang juga menarik disimak, dari jawaban terbuka yang dilontarkan responden Panel 1, terdapat beberapa keunggulan spesifik di masing-masing sekolah bisnis. Umpamanya, Prasetiya Mulya, PPM dan IPMI dinilai memiliki kurikulum yang sesuai kebutuhan pasar. Ketiga sekolah bisnis itu -- ditambah MM IPB -- juga diakui telah menerapkan program kerja praktik/magang di perusahaan terkemuka.
Bahkan, Prasetiya Mulya dan PPM dinilai memiliki sistem pendidikan yang seimbang antara teori dan praktik. Di pihak lain, banyak responden melihat sistem pendidikan di MM UI cenderung ke arah akademis. Beberapa sekolah bisnis, diakui responden Panel 1 memiliki spesialisasi tertentu. MM Bina Nusantara, misalnya, dilihat sebagai sekolah bisnis yang khusus menghasilkan magister bidang teknologi informasi.
Sementara itu, MM ITB di manajemen teknik, dan MM IPB di bidang agrobisnis dan pertanian. Dilihat dari persepsi total pada Panel 2, MM UI menempati urutan pertama, dengan nilai TOM tertinggi (37,36). Untuk kategori best performance, MM UGM memperoleh nilai teratas, 18,13. Di kategori satisfaction performance, ada dua sekolah bisnis yang meraih nilai tertinggi, yaitu MM ITB dan STM Bandung -- masing-masing 68,00. Sepertinya, ini terkait langsung dengan tingkat kepuasan yang diterima user dan recruiter dari lulusan kedua sekolah ini.
Dilihat dari keahliannya, kedua sekolah bisnis ini memang lebih implementatif. Adapun untuk image sekolah bisnis terbaik, MM Binus justru memperoleh nilai tertinggi (87,85). Data persepsi total pada Panel 2, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3. Di luar itu, ada hal menarik yang terungkap dari persepsi responden mengenai best performance sekolah bisnis terbaik. Sebagai contoh, mahasiswa dan alumni MM Trisakti menilai MM UI (43,33) lebih tinggi dari sekolahnya sendiri (33,33).
Demikian pula dengan MM Indonusa Esa Unggul dan MM Atma Jaya Yogya. Sebagaimana MM Trisakti, mahasiswa dan alumni MM Indonusa Esa Unggul melihat MM UI (33,33) lebih tinggi dibanding sekolahnya (29,63). Sementara itu, dalam persepsi mahasiswa dan alumni MM Atma Jaya Yogya, ada tiga sekolah bisnis yang lebih baik dari tempatnya belajar, yakni STM Prasetiya Mulya (25,81), MM UI (22,58) dan MM UGM (19,35). Adapun untuk institusinya sendiri, mahasiswa dan alumni MM Atma Jaya hanya 16,13. Demikian pula untuk kategori satisfaction performance.
Pada Grafik 8 dan 9, Anda dapat melihat perbedaan menarik yang terungkap dari Panel 1 dan 2. Di Panel 1, MM ITB menduduki tempat terbawah dengan nilai 57,20. Sebaliknya, di Panel 2, MM ITB justru menempati urutan teratas dengan skor 68,00. Ada apa gerangan? Perbedaan mencolok ini antara lain disebabkan calon mahasiswa, mahasiswa dan alumni MM ITB memberikan pengharapan tinggi terhadap satisfaction performance sekolahnya. Dilihat dari karakternya, mahasiswa institusi ini secara akademis bisa dikatakan unggul. Biasanya, orang-orang yang masuk kategori ini menuntut kepuasan yang lebih tinggi dibanding kebanyakan orang.
Hasilnya, di mata mereka, MM ITB belum memberi kepuasan sesuai harapan. Di lain pihak, lulusan MM ITB sebenarnya sangat bisa diandalkan. Ini terlihat dari persepsi Panel 2 mengenai satisfaction performance MM ITB di beberapa perusahaan yang disurvei. Hanya saja, di mata Mitra Pengelola Amrop Hever, Pri Notowidigdo, lulusannya kurang dapat berkomunikasi dan bertukar pikiran dalam tim. "Ada persepsi dari klien saya, mereka terlalu matematis dan scientific oriented.
Nah, orang seperti ini lebih sulit diajak diskusi dan bertukar pikiran," ungkap pemilik jasa head hunter ini kalem. "Tapi, mungkin ini hanya kesan," ia buru-buru menambahkan. Yang perlu diketahui, dalam penghitungan akhir untuk menentukan peringkat sekolah bisnis terbaik, terdapat perbedaan pembobotan antara Panel 1 dan 2. Menurut Direktur Riset MARS, Budi Suharjo, bobot untuk Panel 1 lebih tinggi dibanding Panel 2. Alasannya, "Panel 1 memberi informasi yang lebih variatif dan mengarah ke fakta. Jumlah responden yang terjaring juga lebih banyak.” Sementara itu, informasi yang diperoleh dari Panel 2 tidak selengkap Panel 1.
Pasalnya, responden yang terjaring tidak banyak. Selain itu, "Mereka kurang tahu persis kondisi internal masing-masing sekolah bisnis yang disurvei," ujarnya. Karena kesulitan mencari responden untuk Panel 2, MARS menaikkan bobot untuk Panel 1 menjadi 70% dan 30% untuk Panel 2. Kurang berimbangnya responden pada Panel 1 dan 2, diakui Budi merupakan kelemahan survei ini. "Responden untuk Panel 2 lebih banyak yang menolak diwawancara, dengan alasan sibuk dan tak mau diganggu," jelasnya. Kelemahan lain, selain bobot Panel 2 yang lebih rendah dari Panel 1, survei ini hanya berdasarkan persepsi. "Jadi, tidak terlalu eksak, karena persepsi sangat tergantung pada siapa yang menilainya," jelasnya.
Kendati demikian, Budi berani memastikan, survei ini sudah memenuhi kaidah statistik untuk bisa dikatakan valid. Maksudnya, pihak MARS telah melakukan proses yang lazim dalam penelitian lapangan. "Kuesioner yang kami buat, reliabilitas, dan validitasnya telah diuji," tambahnya.
Selanjutnya, dari survei ini pun bisa dipahami bagaimana dimensi dan persepsi yang berkembang di masyarakat mengenai sekolah bisnis. Last but not least, survei ini juga sangat bagus untuk melengkapi hasil akreditasi yang dikeluarkan BAN. "Saya yakin, hasil survei ini memiliki nuansa tersendiri," ujar doktor lulusan Jerman yang juga aktif di BAN ini mantap. Bila dilihat perkomponen yang disurvei, persepsi sekolah bisnis di setiap panel memiliki keunggulan masing-masing. Budi mencontohkan, di Panel 1, MM UI unggul hampir di semua kategori.
Sementara ITB, unggul di Panel 2 untuk aspek kepuasaan. Ini menandakan, kedua aspek itu bisa ditangkap untuk mencari gambaran menyeluruh. Yang pasti, dari lima besar sekolah bisnis terbaik yang disurvei kali ini, masing-masing mempunyai ciri khas yang menjadi keunggulannya. MM UI, umpamanya, seperti dituturkan Ketua Programnya Ronny K. Muntoro, memiliki keunggulan pada kurikulumnya. "Kurikulum kami yang paling lengkap," klaimnya bangga.
Di samping itu, lembaga ini juga berupaya agar lulusannya menjadi manajer yang memiliki daya analisis yang tajam. Saat ini, jelas Ronny, pihaknya menggelar tiga macam program MM. Pertama, program Reguler, yang terdiri dari Manajemen Internasional, Keuangan, Operasional, Pemasaran dan SDM. Kedua, program khusus bidang keuangan seperti Aktuaria, Manajemen Risiko dan Pasar Modal.
Ketiga, program yang khusus mempelajari Manajemen Internasional. Di program terakhir ini, dijalin kerja sama dengan salah satu universitas di Prancis. Lulusannya akan memperoleh gelar ganda, yakni Magister Manajemen dari UI dan Certificat d`Aptitude a L`Administration des Enterprice dari Prancis. "Tentu saja, para lulusannya harus mampu berbahasa Perancis," katanya. Model kurikulum yang seperti itu, dijelaskan mantan Dirut Aerowisata ini, bertujuan agar semua mahasiswa dapat menjawab segala pertanyaan dasar yang muncul di dunia bisnis. Untuk itu, tiap mahasiswa diwajibkan mengambil mata kuliah dasar. Sekalipun bidang studi yang diambil Manajemen Pemasaran, misalnya, mahasiswa tetap harus mengikuti mata kuliah dasar, yang terdiri dari manajemen keuangan, operasi, SDM, hukum dan etika bisnis. "Biar kalau nanti diajak ngomong bisnis bisa nyambung," tandas pria yang ikut membidani lahirnya MM UI pada 1988 ini.
Di lain pihak, ia mengaku sering mendengar penilaian orang yang menyatakan lembaganya terkesan teoretis. "Bagi orang luar, barangkali model kurikulum seperti itu jadi terkesan teoretis," ujarnya. Untuk menghilangkan pandangan seperti itu, pihaknya berusaha menghadirkan dosen dari kalangan praktisi -- yang mengerti seluk-beluk dunia bisnis. "Kami sadar betul di UI banyak pemikir textbook, tapi kurang pengalaman praktis," ujarnya. Dalam hal ini, Ronny beruntung karena banyak praktisi yang mengajukan diri menjadi dosen di tempatnya.
Di Prasetiya Mulya, model kurikulum lebih diarahkan untuk melatih keterampilan dan pengetahuan bisnis, keterampilan kerja sama tim, mengasah intuisi dalam mengantisipasi perubahan iklim bisnis, serta membentuk sikap profesional sebagai bagian dari rencana bisnis yang komprehensif. Tak hanya itu, lulusannya juga diharapkan terampil mengimplementasikan konsep bisnis dan tanggap terhadap berbagai isu sosial, tanpa melupakan kode etik dalam berbisnis.
"Kami ingin alumni memiliki karakter yang kuat, sehingga mereka tough dalam menghadapi kompetisi usaha," tutur A. Suryo Nugroho, Direktur & Chairman Graduate Management Program Prasetiya Mulya. Hal ini, dikatakannya, sangat dimungkinkan lantaran lembaga ini memiliki kurikulum yang terintegrasi antara dunia akademis dan praktis. Program favorit para mahasiswa adalah pemasaran, keuangan, strategi bisnis dan manajemen SDM. Seluruh materi diberikan dalam bahasa Inggris. Hanya, dalam penyampaiannya penggunaan bahasa Indonesia masih dominan.
Namun, "Penggunaan bahasa Inggris kami latih terus-menerus, khususnya saat diskusi kelompok," ujarnya. Cara pengajarannya, seperti diungkapkan Associate Dean for Academic Affairs Prasetiya Mulya Sammy Kristamuljana, lebih bersifat diskusi kelompok. "Kami ingin melatih kemampuan berargumentasi yang disertai alasan yang logis," tandasnya. Manfaat diskusi ini, mahasiswa terlatih mengeluarkan pendapat, bernegosiasi, dan berpikir analitis untuk mencari solusi bisnis.
Di samping itu, Direktur Promosi dan Informasi Prasetiya Mulya Iwan K. Kahfi menambahkan, agar dapat memenuhi kebutuhan user dan recruiter, sekolah bisnis ini juga memiliki program Layanan Pengembangan karier. Dalam program ini, ada pengembangan karier alumni, konsultasi akademis dan karier, layanan informasi korporat serta rekrutmen dan presentasi korporat.
Dengan cara ini, pihak Prasetiya Mulya serta mahasiswa dan alumninya dapat mempersiapkan diri agar memiliki nilai jual lebih di pasar kerja. Juga, untuk mengetahui yang sesungguhnya diinginkan para pelaku usaha dan jasa recruiter, sekolah bisnis yang didirikan pada 1982 ini menerapkan program Career Day, yang digelar dua kali setahun, pada Juni dan November, serta tiga bulan sebelum tes akhir, Business Plan Seminar & Comprehension Exam. Sammy memperkirakan, rata-rata nilai pasar lulusan MM Reguler Prasetiya Mulya tanpa pengalaman kerja, Rp 3,5-5 juta/bulan.
Sementara lulusan dengan pengalaman kerja, rata-rata gajinya Rp 10 juta lebih/bulan. "Tetapi angka ini sangat variatif. Tergantung perusahaannya, juga kompetensi mereka nantinya," tambahnya. Dilihat dari peringkat sekolah bisnis terbaik yang dilakukan SWA dan MARS tahun ini, MM UI dan Prasetiya Mulya berada di tempat yang diinginkan semua orang. Akan tetapi, yang mesti dicermati, peringkat atas bukanlah segalanya untuk menjatuhkan pilihan. Ini tidak bisa dijadikan ukuran dan jaminan mutlak yang bersangkutan unggul dalam segala hal.
Pasalnya, dalam hal kompetensi, boleh jadi, sekolah bisnis di peringkat bawah pun tak kalah dibanding yang menduduki peringkat lima besar. Sekarang, mari kita tengok STM PPM, yang dalam survei ini berada di peringkat ke-7. Sejak awal, sekolah tinggi manajemen yang didirikan pada 1967 ini diarahkan untuk menjadi Harvard Business School-nya Indonesia.
Dalam membuat strategi, Ketua STM PPM Andi Ilham Said mengatakan, pihaknya sangat jelas merumuskan output-nya. Program Widya Wiyata, umpamanya, merupakan jembatan agar lulusan S-1 bisa masuk ke dunia kerja. Biasanya, mahasiswanya adalah fresh graduate. Di luar itu, kelas eksekutif dipersiapkan untuk menjadi public change leader. Kelas ini dibentuk karena adanya kebutuhan, agar SDM yang dihasilkan bisa membawa perubahan yang baik.
Kurikulumnya pun disesuaikan kebutuhan bisnis. "Kurikulum yang kami terapkan adalah kurikulum terbuka. Ini sangat menguntungkan, karena bisa lebih mendekati pasar," katanya. Di sini, ia menjelaskan, lembaganya tidak memberlakukan kurikulum standar. Alasannya, "Di dunia bisnis, masalah yang dihadapi terkait dengan bidang lain". Karena itu, PPM memberi kemudahan kepada mahasiswanya untuk memilih dan meramu kurikulum sendiri. Untuk lebih jelasnya, ada tiga kelompok utama mata kuliah yang diberikan, pertama, mata kuliah dasar yang ditujukan untuk membentuk dan mengadaptasi pola pikir manajemen.
Dalam mata kuliah ini, mahasiswa diajarkan tentang self development dan team building, terdiri atas 10 SKS. Kedua, mata kuliah inti, yang memiliki kontribusi langsung dalam membentuk output, misalnya leadership, strategic thinking dan change management (24 SKS). Ketiga, mata kuliah pilihan, yang ditujukan untuk menambah pengetahuan mahasiswa terhadap topik tertentu, sesuai minatnya. Mahasiswa dapat memilih 8 SKS dari banyak pilihan yang disediakan.
Dalam proses pembelajarannya, mahasiswa juga diberi materi yang bersifat soft skill, misalnya cara berkomunikasi dan mendengarkan dengan baik. Untuk mengasah kemampuan ini, menurut Andi, pihaknya juga memberikan keleluasaan pada mahasiswanya untuk melakukan kegiatan outbound.
Metode pengajarannya pun lebih banyak membahas kasus. Selanjutnya, mahasiswa diminta berpartisipasi untuk membuat penyelesaian kasus tersebut. Yang menarik, PPM menerapkan pinjaman lunak jangka panjang. Artinya, calon mahasiswa yang memiliki kompetensi, bisa sekolah di institusi ini dengan biaya yang akan dibayarkan secara mencicil setelah yang bersangkutan diterima bekerja. "Tentu saja cicilannya akan progresif, sesuai besaran gaji yang terus meningkat," kata Andi.
Untuk memperoleh pinjaman seperti ini, mahasiswa harus mengikuti proses seleksi yang biasanya dilakukan di empat kota besar di Indonesia. Dari rata-rata 200 peserta, hanya 40-50 orang yang lolos seleksi tersebut. Di MM Trisakti, kompetensinya lain lagi. Sejak didirikan pada 1992, sekolah bisnis ini fokus pada pengembangan kewirausahaan. Dalam kurikulumnya, MM Trisakti yang pada survei ini berada di peringkat ke-9 selalu merangsang mahasiswanya agar mempunyai inisiatif, kreatif, arif dan percaya diri. Pengajarannya menggunakan metode yang didasarkan pada pengetahuan praktik.
"Harapannya, lulusan bisa menjadi wirausahawan," ujar Direktur Program Pascasarjana Universitas Trisakti Thoby Mutis. Diakuinya, situasi bisnis selalu berubah. Sebab itu, Trisakti selalu mencari buku-buku terbaru dan memperbarui modulnya. "Kami tidak percaya dengan modul asing. Berdasarkan pengalaman, malah tidak memecahkan masalah," tandasnya. Ini disebabkan, kasus-kasus yang disuguhkan terkadang tidak dapat dipakai di Indonesia. Pada akhirnya, buku-buku tersebut hanya sebagai referensi dan pendalaman materi. Sekarang, metode pengajarannya lebih diarahkan ke problem-based learning. Dalam metode ini, sebelum kuliah para mahasiswa diberi 100-200 pertanyaan esai.
Modulnya dikerjakan bersama-sama dengan Maastrich School of Business dari Belanda. Kendati demikian, Thoby mengaku tidak menganut content global. "Realitas globalisasi memang tidak dapat dimungkiri. Kami akan mengikutinya dan mempersiapkan diri. Namun, fokus kami adalah melihat pasar lokal dan sublokal," ujarnya tegas. Melihat metode pengajaran dan kompetensi yang dimiliki sejumlah sekolah bisnis, barangkali kita pantas berdecak kagum. Mereka tak hanya "habis-habisan" menawarkan keunggulan dalam hal pengajaran dan kurikulum. Di samping itu, fasilitas yang memadai juga menjadi nilai lebih masing-masing sekolah bisnis.
Semua sekolah bisnis menyediakan perpustakaan dan jaringan Internet, yang dapat diakses secara langsung oleh mahasiswanya. "Bahkan nantinya, di setiap ruang kelas PPM disediakan Internet link," tutur Andi. Selain fasilitas Internet, MM Trisakti pun menyediakan layanan 24 jam Trisakti Online Student Services, antara lain berupa AutoSAn (Automatic SMS Announcer).
Adapun MM UI berupaya membangun fasilitas belajar yang lengkap dengan menggandeng perusahaan atau bank. Tak heran, saat ini ada ruang kuliah yang diberi nama Ruang BRI -- hasil kerja sama dengan Bank BRI. Biaya kuliah barangkali juga menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah bisnis.
Saat ini, untuk program reguler yang memiliki masa kuliah 16 bulan untuk 50 SKS, biaya kuliah di Prasetiya Mulya berkisar Rp 49 juta. Sedangkan untuk program eksekutif muda selama dua tahun, mahasiswa mesti menyiapkan dana sekitar Rp 54 juta untuk 48 SKS. Dan, untuk program MM eksekutif -- juga 48 SKS selama 2 tahun -- sekitar Rp 56 juta. "Semua biaya ini sudah all in," ungkap Nugroho. MM Trisakti bisa dikatakan menawarkan biaya kuliah relatif lebih terjangkau, Rp 20-25 juta. Terlepas dari peringkat yang ada dalam survei ini, satu pertanyaan menarik terlontar: apakah lulusan lokal kalah pamor dibanding keluaran mancanegara? Kabar tersiar, lulusan lokal masih sering dipandang sebelah mata -- baik oleh user maupun recruiter.
Beberapa perusahaan kabarnya memberi perlakuan berbeda. Lulusan luar negeri -- biasa disebut MBA -- juga terkesan lebih bergengsi dibanding lokal. Benarkah? Menanggapi hal ini, Thoby balik bertanya, "Ukurannya apa? Apakah ukurannya SDM tersebut bisa bekerja di luar negeri atau lebih mudah diterima di perusahaan multinasional?" Diakuinya, persepsi masyarakat yang lebih mengunggulkan sekolah luar negeri memang masih melekat kuat.
"Tapi, itu tidak selalu benar," bantahnya tegas. Andi menambahkan, kalau ingin menilai lulusan MBA luar negeri, terlebih dulu harus dilihat nama sekolahnya. Maksudnya, kalau sekadar dari sekolah bisnis yang kredibilitasnya tak jelas -- misal peringkatnya di bawah 400 -- bisa dikatakan MM lokal jauh lebih unggul. Bila dilihat dari nilai tambahnya, menurut Andi, kelebihan lulusan luar negeri terletak dalam hal penguasaan bahasa Inggris, international senses dan tidak gagap teknologi. Ihwal bahasa, Direktur PT Metrodata Electronics Sjafril Effendi sependapat.
"MBA luar negeri lebih baik dalam kemampuan menulis dan penguasaan bahasa Inggris," katanya. Meski begitu, sebagai user ia tidak membeda-bedakan antara lulusan lokal dan luar negeri. "Bagi kami sama saja. Selama yang bersangkutan bisa lulus tes, kami tidak pernah membedakannya," katanya. Untuk MM lokal, yang sering dipakai Metrodata antara lain dari UI, Prasetiya Mulya dan PPM. Khusus TI, dipercayakannya pada Binus. Bahkan, TNT Logistik Indonesia yang perusahaan multinasional pun tidak membeda-bedakan lulusan lokal dan luar negeri.
Di perusahaan ini, jelas Direktur SDM Country-nya, Irvandi Ferizal, yang dilihat adalah kompetensinya. Tambahan pendidikan MM/MBA, diakuinya, akan menambah wawasan karyawan. "Wawasan manajerialnya menjadi lebih matang," ujarnya. Akan tetapi, itu tidak menjamin 100%. "Ini sangat tergantung individunya," katanya. Yang banyak terjadi, Irvandi melanjutkan, tatkala diwawancarai, sejumlah pelamar bergelar MBA merasa sudah tahu semua dan siap menduduki posisi tinggi. "Mau instan. Padahal, banyak yang belum punya pengalaman dan masih butuh pengujian di lapangan," tuturnya.
Sejauh ini, TNT berpengalaman mempekerjakan lulusan STM IPMI dan Prasetiya Mulya. Di matanya, lulusan lokal pun bisa memuaskan (tentang lokal dan asing ini, lihat “Bukan Lagi the Golden Ticket”). Direktur Pengelola Templar International Consultant Dinna Erwinn mengungkapkan, umumnya MM lokal banyak diserap perusahaan-perusahaan besar yang membidangi jasa, consumer goods atau pertambangan minyak.
Bila berpengalaman, mereka akan langsung ditempatkan di posisi manajerial. Biasanya, lulusan lokal yang banyak diserap pasar berasal dari UI, Prasetiya Mulya, IPMI dan PPM. Menanggapi lulusan lokal yang tetap diserap pelaku bisnis, Wakil Kepala Divisi SDM Bank BNI Lies Purwani berpendapat, untuk lebih menggenjot daya saing lulusannya, sekolah bisnis di Tanah Air sebaiknya meningkatkan kualitasnya. Ke depan, ia berharap, sekolah bisnis tidak hanya menyediakan program yang umum dan mendasar, tapi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar (user).
Dengan begitu, lulusan lokal dapat dipastikan berdiri sejajar dengan keluaran luar negeri. Tentu, ini tantangan berat buat para pengelola sekolah bisnis di Indonesia. Akan tetapi, inilah konsekuensi agar sekolah bisnis dalam negeri tetap menjadi pilihan sekaligus jawaban kebutuhan dunia bisnis. Juga, jawaban bagi mereka yang seperti Eddy saat ditanya: apa yang diharapkan ketika memutuskan meraih gelar MM? Di mata mereka, sekolah bisnis adalah investasi untuk pengembangan diri dan karier.
Firdanianty Reportase: A. Mohammad B.S., Abraham Susanto, Dede Suryadi, Farida Nawang Nurini, Herning Banirestu, Tutut Handayani Riset: Vika Octavia. swaNET.com, Indonesia Business Online - 9 November 2003
SWA: Survei SWA-MARS menghasilkan peringkat sekolah bisnis terbaik. Siapa saja mereka? Apa yang membuat mereka dipersepsikan terbaik? Apa yang diharapkan seseorang ketika memutuskan meraih gelar Magister Manajemen?
"Pendidikan ini akan menjadi investasi jangka panjang yang bermanfaat untuk pengembangan diri dan karier saya di masa mendatang, termasuk peningkatan pendapatan tentunya," demikian seorang mahasiswa MM Universitas Indonesia angkatan 2003 (sebut saja Eddy) mengungkap alasannya.
Ia optimistis, program yang sedang digelutinya saat ini dapat memperluas cara pandangnya dan wawasan ilmu pengetahuannya. Bahkan, "Saya berharap, pola pikir akan semakin terarah dan realistis.” Hal itu dimungkinkan, lantaran, "Ilmu yang kami pelajari di sini lebih bersifat terapan.” Begitulah pesona MM. Gelarnya dipandang menjadi selembar tiket untuk memperoleh peluang besar bekerja di perusahaan multinasional kelas atas, seperti IBM, General Electric, Ford Motor dan Unilever.
Di Indonesia, lulus sekolah MM juga diyakini menjadi simbol sukses dalam merentas karier. Gaji tinggi, fasilitas menarik dan jabatan bergengsi, seakan-akan terhampar di depan mata. Akibatnya, bukan hanya sekolah MM yang tumbuh subur. Lulusannya pun membanjiri pasar kerja. Sayangnya, kualitas mereka kini dipertanyakan karena banyak sekolah tinggi yang menawarkan program ini, tak jelas kredibilitasnya. Padahal, biaya sekolahnya jauh lebih tinggi daripada program pascasarjana lainnya. Sangat disayangkan bila sudah menguras tabungan, ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan. Berangkat dari alasan menampilkan sekolah bisnis yang bisa dipercaya, SWA bekerja sama dengan lembaga riset independen, MARS, melakukan survei untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang sekolah bisnis yang dianggap terbaik.
Dari persepsi yang terbentuk, selanjutnya dibuat peringkat sekolah bisnis terbaik. Survei ini dilakukan dari pertengahan Mei hingga akhir Juli lalu di tiga kota besar: Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Responden yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari kalangan calon mahasiswa, mahasiswa, alumni, user dan recruiter, yang jumlahnya mencapai 656 orang. Untuk memudahkan survei, responden dikelompokkan dalam dua panel. Panel 1, terdiri dari calon mahasiswa, mahasiswa dan alumni. Adapun Panel 2, user dan recruiter. Dalam hal ini, ada 13 sekolah bisnis yang ditanyakan ke para responden. Pengambilan sampel ke-13 sekolah bisnis tersebut didasarkan pada peringkat yang dikeluarkan Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Pendekatan yang dilakukan dalam survei ini mencakup tiga hal, brand awareness (top of mind), image study dan satisfaction study. Brand awareness bertujuan mengetahui sekolah bisnis mana yang paling kuat dikenal responden. Image study dilakukan untuk mengenali persepsi responden. Sementara satisfaction study, untuk mengetahui tingkat kepuasan. Hasilnya? Dilihat dari skor total Panel 1 dan 2, MM UI berhasil meraih peringkat teratas dengan perolehan 55,92.
Di peringkat kedua, bertengger STM Prasetiya Mulya dengan total score 48,08. Berikutnya, STM IPMI (41,07), MM Universitas Gadjah Mada (40,87) dan MM Institut Pertanian Bogor (38,96).
Peringkat sekolah bisnis terbaik selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Bila ditelusuri, atribut yang diukur dalam pengukuran skor meliputi: top of mind (TOM), best performance (sekolah bisnis terbaik menurut persepsi responden), image score (jumlah masing-masing image sesuai tingkat kepentingan menurut persepsi responden) dan satisfaction performance (tingkat kepuasan responden terhadap performa/kinerja sekolah bisnis yang dinilai).
Berdasarkan persepsi total pada Panel 1 -- meliputi empat atribut di atas -- MM UI menempati urutan pertama, dengan nilai TOM (28,30) dan image (72,54) tertinggi. Untuk kategori best performance dan satisfaction performance, MM UI masih di bawah yang lain. Di kategori best performance, nama yang muncul di peringkat pertama adalah IPMI, dengan skor 90,00. Di bawahnya, MM UI dan Prasetiya Mulya meraih nilai sama: 83,87. Untuk kategori satisfaction performance, Prasetiya Mulya memperoleh skor tertinggi, 73,00. Gambaran lengkap tentang persepsi total Panel 1 dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan data mentah yang diterima, ada beberapa alasan yang membuat responden pada Panel 1 mengatakan sekolah bisnis tersebut terbaik.
Dari puluhan jawaban yang ada, setidak-tidaknya ada lima alasan tertinggi, yaitu kurikulumnya lengkap sesuai tuntutan pasar/zaman (20,13%), dosen/stafnya berkualitas (19,29%), kampusnya terkenal (10,48%), fasilitasnya bagus (10,69%) dan lulusannya banyak yang diterima perusahaan terkenal (9,64%). Hal lain yang juga menarik disimak, dari jawaban terbuka yang dilontarkan responden Panel 1, terdapat beberapa keunggulan spesifik di masing-masing sekolah bisnis. Umpamanya, Prasetiya Mulya, PPM dan IPMI dinilai memiliki kurikulum yang sesuai kebutuhan pasar. Ketiga sekolah bisnis itu -- ditambah MM IPB -- juga diakui telah menerapkan program kerja praktik/magang di perusahaan terkemuka.
Bahkan, Prasetiya Mulya dan PPM dinilai memiliki sistem pendidikan yang seimbang antara teori dan praktik. Di pihak lain, banyak responden melihat sistem pendidikan di MM UI cenderung ke arah akademis. Beberapa sekolah bisnis, diakui responden Panel 1 memiliki spesialisasi tertentu. MM Bina Nusantara, misalnya, dilihat sebagai sekolah bisnis yang khusus menghasilkan magister bidang teknologi informasi.
Sementara itu, MM ITB di manajemen teknik, dan MM IPB di bidang agrobisnis dan pertanian. Dilihat dari persepsi total pada Panel 2, MM UI menempati urutan pertama, dengan nilai TOM tertinggi (37,36). Untuk kategori best performance, MM UGM memperoleh nilai teratas, 18,13. Di kategori satisfaction performance, ada dua sekolah bisnis yang meraih nilai tertinggi, yaitu MM ITB dan STM Bandung -- masing-masing 68,00. Sepertinya, ini terkait langsung dengan tingkat kepuasan yang diterima user dan recruiter dari lulusan kedua sekolah ini.
Dilihat dari keahliannya, kedua sekolah bisnis ini memang lebih implementatif. Adapun untuk image sekolah bisnis terbaik, MM Binus justru memperoleh nilai tertinggi (87,85). Data persepsi total pada Panel 2, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3. Di luar itu, ada hal menarik yang terungkap dari persepsi responden mengenai best performance sekolah bisnis terbaik. Sebagai contoh, mahasiswa dan alumni MM Trisakti menilai MM UI (43,33) lebih tinggi dari sekolahnya sendiri (33,33).
Demikian pula dengan MM Indonusa Esa Unggul dan MM Atma Jaya Yogya. Sebagaimana MM Trisakti, mahasiswa dan alumni MM Indonusa Esa Unggul melihat MM UI (33,33) lebih tinggi dibanding sekolahnya (29,63). Sementara itu, dalam persepsi mahasiswa dan alumni MM Atma Jaya Yogya, ada tiga sekolah bisnis yang lebih baik dari tempatnya belajar, yakni STM Prasetiya Mulya (25,81), MM UI (22,58) dan MM UGM (19,35). Adapun untuk institusinya sendiri, mahasiswa dan alumni MM Atma Jaya hanya 16,13. Demikian pula untuk kategori satisfaction performance.
Pada Grafik 8 dan 9, Anda dapat melihat perbedaan menarik yang terungkap dari Panel 1 dan 2. Di Panel 1, MM ITB menduduki tempat terbawah dengan nilai 57,20. Sebaliknya, di Panel 2, MM ITB justru menempati urutan teratas dengan skor 68,00. Ada apa gerangan? Perbedaan mencolok ini antara lain disebabkan calon mahasiswa, mahasiswa dan alumni MM ITB memberikan pengharapan tinggi terhadap satisfaction performance sekolahnya. Dilihat dari karakternya, mahasiswa institusi ini secara akademis bisa dikatakan unggul. Biasanya, orang-orang yang masuk kategori ini menuntut kepuasan yang lebih tinggi dibanding kebanyakan orang.
Hasilnya, di mata mereka, MM ITB belum memberi kepuasan sesuai harapan. Di lain pihak, lulusan MM ITB sebenarnya sangat bisa diandalkan. Ini terlihat dari persepsi Panel 2 mengenai satisfaction performance MM ITB di beberapa perusahaan yang disurvei. Hanya saja, di mata Mitra Pengelola Amrop Hever, Pri Notowidigdo, lulusannya kurang dapat berkomunikasi dan bertukar pikiran dalam tim. "Ada persepsi dari klien saya, mereka terlalu matematis dan scientific oriented.
Nah, orang seperti ini lebih sulit diajak diskusi dan bertukar pikiran," ungkap pemilik jasa head hunter ini kalem. "Tapi, mungkin ini hanya kesan," ia buru-buru menambahkan. Yang perlu diketahui, dalam penghitungan akhir untuk menentukan peringkat sekolah bisnis terbaik, terdapat perbedaan pembobotan antara Panel 1 dan 2. Menurut Direktur Riset MARS, Budi Suharjo, bobot untuk Panel 1 lebih tinggi dibanding Panel 2. Alasannya, "Panel 1 memberi informasi yang lebih variatif dan mengarah ke fakta. Jumlah responden yang terjaring juga lebih banyak.” Sementara itu, informasi yang diperoleh dari Panel 2 tidak selengkap Panel 1.
Pasalnya, responden yang terjaring tidak banyak. Selain itu, "Mereka kurang tahu persis kondisi internal masing-masing sekolah bisnis yang disurvei," ujarnya. Karena kesulitan mencari responden untuk Panel 2, MARS menaikkan bobot untuk Panel 1 menjadi 70% dan 30% untuk Panel 2. Kurang berimbangnya responden pada Panel 1 dan 2, diakui Budi merupakan kelemahan survei ini. "Responden untuk Panel 2 lebih banyak yang menolak diwawancara, dengan alasan sibuk dan tak mau diganggu," jelasnya. Kelemahan lain, selain bobot Panel 2 yang lebih rendah dari Panel 1, survei ini hanya berdasarkan persepsi. "Jadi, tidak terlalu eksak, karena persepsi sangat tergantung pada siapa yang menilainya," jelasnya.
Kendati demikian, Budi berani memastikan, survei ini sudah memenuhi kaidah statistik untuk bisa dikatakan valid. Maksudnya, pihak MARS telah melakukan proses yang lazim dalam penelitian lapangan. "Kuesioner yang kami buat, reliabilitas, dan validitasnya telah diuji," tambahnya.
Selanjutnya, dari survei ini pun bisa dipahami bagaimana dimensi dan persepsi yang berkembang di masyarakat mengenai sekolah bisnis. Last but not least, survei ini juga sangat bagus untuk melengkapi hasil akreditasi yang dikeluarkan BAN. "Saya yakin, hasil survei ini memiliki nuansa tersendiri," ujar doktor lulusan Jerman yang juga aktif di BAN ini mantap. Bila dilihat perkomponen yang disurvei, persepsi sekolah bisnis di setiap panel memiliki keunggulan masing-masing. Budi mencontohkan, di Panel 1, MM UI unggul hampir di semua kategori.
Sementara ITB, unggul di Panel 2 untuk aspek kepuasaan. Ini menandakan, kedua aspek itu bisa ditangkap untuk mencari gambaran menyeluruh. Yang pasti, dari lima besar sekolah bisnis terbaik yang disurvei kali ini, masing-masing mempunyai ciri khas yang menjadi keunggulannya. MM UI, umpamanya, seperti dituturkan Ketua Programnya Ronny K. Muntoro, memiliki keunggulan pada kurikulumnya. "Kurikulum kami yang paling lengkap," klaimnya bangga.
Di samping itu, lembaga ini juga berupaya agar lulusannya menjadi manajer yang memiliki daya analisis yang tajam. Saat ini, jelas Ronny, pihaknya menggelar tiga macam program MM. Pertama, program Reguler, yang terdiri dari Manajemen Internasional, Keuangan, Operasional, Pemasaran dan SDM. Kedua, program khusus bidang keuangan seperti Aktuaria, Manajemen Risiko dan Pasar Modal.
Ketiga, program yang khusus mempelajari Manajemen Internasional. Di program terakhir ini, dijalin kerja sama dengan salah satu universitas di Prancis. Lulusannya akan memperoleh gelar ganda, yakni Magister Manajemen dari UI dan Certificat d`Aptitude a L`Administration des Enterprice dari Prancis. "Tentu saja, para lulusannya harus mampu berbahasa Perancis," katanya. Model kurikulum yang seperti itu, dijelaskan mantan Dirut Aerowisata ini, bertujuan agar semua mahasiswa dapat menjawab segala pertanyaan dasar yang muncul di dunia bisnis. Untuk itu, tiap mahasiswa diwajibkan mengambil mata kuliah dasar. Sekalipun bidang studi yang diambil Manajemen Pemasaran, misalnya, mahasiswa tetap harus mengikuti mata kuliah dasar, yang terdiri dari manajemen keuangan, operasi, SDM, hukum dan etika bisnis. "Biar kalau nanti diajak ngomong bisnis bisa nyambung," tandas pria yang ikut membidani lahirnya MM UI pada 1988 ini.
Di lain pihak, ia mengaku sering mendengar penilaian orang yang menyatakan lembaganya terkesan teoretis. "Bagi orang luar, barangkali model kurikulum seperti itu jadi terkesan teoretis," ujarnya. Untuk menghilangkan pandangan seperti itu, pihaknya berusaha menghadirkan dosen dari kalangan praktisi -- yang mengerti seluk-beluk dunia bisnis. "Kami sadar betul di UI banyak pemikir textbook, tapi kurang pengalaman praktis," ujarnya. Dalam hal ini, Ronny beruntung karena banyak praktisi yang mengajukan diri menjadi dosen di tempatnya.
Di Prasetiya Mulya, model kurikulum lebih diarahkan untuk melatih keterampilan dan pengetahuan bisnis, keterampilan kerja sama tim, mengasah intuisi dalam mengantisipasi perubahan iklim bisnis, serta membentuk sikap profesional sebagai bagian dari rencana bisnis yang komprehensif. Tak hanya itu, lulusannya juga diharapkan terampil mengimplementasikan konsep bisnis dan tanggap terhadap berbagai isu sosial, tanpa melupakan kode etik dalam berbisnis.
"Kami ingin alumni memiliki karakter yang kuat, sehingga mereka tough dalam menghadapi kompetisi usaha," tutur A. Suryo Nugroho, Direktur & Chairman Graduate Management Program Prasetiya Mulya. Hal ini, dikatakannya, sangat dimungkinkan lantaran lembaga ini memiliki kurikulum yang terintegrasi antara dunia akademis dan praktis. Program favorit para mahasiswa adalah pemasaran, keuangan, strategi bisnis dan manajemen SDM. Seluruh materi diberikan dalam bahasa Inggris. Hanya, dalam penyampaiannya penggunaan bahasa Indonesia masih dominan.
Namun, "Penggunaan bahasa Inggris kami latih terus-menerus, khususnya saat diskusi kelompok," ujarnya. Cara pengajarannya, seperti diungkapkan Associate Dean for Academic Affairs Prasetiya Mulya Sammy Kristamuljana, lebih bersifat diskusi kelompok. "Kami ingin melatih kemampuan berargumentasi yang disertai alasan yang logis," tandasnya. Manfaat diskusi ini, mahasiswa terlatih mengeluarkan pendapat, bernegosiasi, dan berpikir analitis untuk mencari solusi bisnis.
Di samping itu, Direktur Promosi dan Informasi Prasetiya Mulya Iwan K. Kahfi menambahkan, agar dapat memenuhi kebutuhan user dan recruiter, sekolah bisnis ini juga memiliki program Layanan Pengembangan karier. Dalam program ini, ada pengembangan karier alumni, konsultasi akademis dan karier, layanan informasi korporat serta rekrutmen dan presentasi korporat.
Dengan cara ini, pihak Prasetiya Mulya serta mahasiswa dan alumninya dapat mempersiapkan diri agar memiliki nilai jual lebih di pasar kerja. Juga, untuk mengetahui yang sesungguhnya diinginkan para pelaku usaha dan jasa recruiter, sekolah bisnis yang didirikan pada 1982 ini menerapkan program Career Day, yang digelar dua kali setahun, pada Juni dan November, serta tiga bulan sebelum tes akhir, Business Plan Seminar & Comprehension Exam. Sammy memperkirakan, rata-rata nilai pasar lulusan MM Reguler Prasetiya Mulya tanpa pengalaman kerja, Rp 3,5-5 juta/bulan.
Sementara lulusan dengan pengalaman kerja, rata-rata gajinya Rp 10 juta lebih/bulan. "Tetapi angka ini sangat variatif. Tergantung perusahaannya, juga kompetensi mereka nantinya," tambahnya. Dilihat dari peringkat sekolah bisnis terbaik yang dilakukan SWA dan MARS tahun ini, MM UI dan Prasetiya Mulya berada di tempat yang diinginkan semua orang. Akan tetapi, yang mesti dicermati, peringkat atas bukanlah segalanya untuk menjatuhkan pilihan. Ini tidak bisa dijadikan ukuran dan jaminan mutlak yang bersangkutan unggul dalam segala hal.
Pasalnya, dalam hal kompetensi, boleh jadi, sekolah bisnis di peringkat bawah pun tak kalah dibanding yang menduduki peringkat lima besar. Sekarang, mari kita tengok STM PPM, yang dalam survei ini berada di peringkat ke-7. Sejak awal, sekolah tinggi manajemen yang didirikan pada 1967 ini diarahkan untuk menjadi Harvard Business School-nya Indonesia.
Dalam membuat strategi, Ketua STM PPM Andi Ilham Said mengatakan, pihaknya sangat jelas merumuskan output-nya. Program Widya Wiyata, umpamanya, merupakan jembatan agar lulusan S-1 bisa masuk ke dunia kerja. Biasanya, mahasiswanya adalah fresh graduate. Di luar itu, kelas eksekutif dipersiapkan untuk menjadi public change leader. Kelas ini dibentuk karena adanya kebutuhan, agar SDM yang dihasilkan bisa membawa perubahan yang baik.
Kurikulumnya pun disesuaikan kebutuhan bisnis. "Kurikulum yang kami terapkan adalah kurikulum terbuka. Ini sangat menguntungkan, karena bisa lebih mendekati pasar," katanya. Di sini, ia menjelaskan, lembaganya tidak memberlakukan kurikulum standar. Alasannya, "Di dunia bisnis, masalah yang dihadapi terkait dengan bidang lain". Karena itu, PPM memberi kemudahan kepada mahasiswanya untuk memilih dan meramu kurikulum sendiri. Untuk lebih jelasnya, ada tiga kelompok utama mata kuliah yang diberikan, pertama, mata kuliah dasar yang ditujukan untuk membentuk dan mengadaptasi pola pikir manajemen.
Dalam mata kuliah ini, mahasiswa diajarkan tentang self development dan team building, terdiri atas 10 SKS. Kedua, mata kuliah inti, yang memiliki kontribusi langsung dalam membentuk output, misalnya leadership, strategic thinking dan change management (24 SKS). Ketiga, mata kuliah pilihan, yang ditujukan untuk menambah pengetahuan mahasiswa terhadap topik tertentu, sesuai minatnya. Mahasiswa dapat memilih 8 SKS dari banyak pilihan yang disediakan.
Dalam proses pembelajarannya, mahasiswa juga diberi materi yang bersifat soft skill, misalnya cara berkomunikasi dan mendengarkan dengan baik. Untuk mengasah kemampuan ini, menurut Andi, pihaknya juga memberikan keleluasaan pada mahasiswanya untuk melakukan kegiatan outbound.
Metode pengajarannya pun lebih banyak membahas kasus. Selanjutnya, mahasiswa diminta berpartisipasi untuk membuat penyelesaian kasus tersebut. Yang menarik, PPM menerapkan pinjaman lunak jangka panjang. Artinya, calon mahasiswa yang memiliki kompetensi, bisa sekolah di institusi ini dengan biaya yang akan dibayarkan secara mencicil setelah yang bersangkutan diterima bekerja. "Tentu saja cicilannya akan progresif, sesuai besaran gaji yang terus meningkat," kata Andi.
Untuk memperoleh pinjaman seperti ini, mahasiswa harus mengikuti proses seleksi yang biasanya dilakukan di empat kota besar di Indonesia. Dari rata-rata 200 peserta, hanya 40-50 orang yang lolos seleksi tersebut. Di MM Trisakti, kompetensinya lain lagi. Sejak didirikan pada 1992, sekolah bisnis ini fokus pada pengembangan kewirausahaan. Dalam kurikulumnya, MM Trisakti yang pada survei ini berada di peringkat ke-9 selalu merangsang mahasiswanya agar mempunyai inisiatif, kreatif, arif dan percaya diri. Pengajarannya menggunakan metode yang didasarkan pada pengetahuan praktik.
"Harapannya, lulusan bisa menjadi wirausahawan," ujar Direktur Program Pascasarjana Universitas Trisakti Thoby Mutis. Diakuinya, situasi bisnis selalu berubah. Sebab itu, Trisakti selalu mencari buku-buku terbaru dan memperbarui modulnya. "Kami tidak percaya dengan modul asing. Berdasarkan pengalaman, malah tidak memecahkan masalah," tandasnya. Ini disebabkan, kasus-kasus yang disuguhkan terkadang tidak dapat dipakai di Indonesia. Pada akhirnya, buku-buku tersebut hanya sebagai referensi dan pendalaman materi. Sekarang, metode pengajarannya lebih diarahkan ke problem-based learning. Dalam metode ini, sebelum kuliah para mahasiswa diberi 100-200 pertanyaan esai.
Modulnya dikerjakan bersama-sama dengan Maastrich School of Business dari Belanda. Kendati demikian, Thoby mengaku tidak menganut content global. "Realitas globalisasi memang tidak dapat dimungkiri. Kami akan mengikutinya dan mempersiapkan diri. Namun, fokus kami adalah melihat pasar lokal dan sublokal," ujarnya tegas. Melihat metode pengajaran dan kompetensi yang dimiliki sejumlah sekolah bisnis, barangkali kita pantas berdecak kagum. Mereka tak hanya "habis-habisan" menawarkan keunggulan dalam hal pengajaran dan kurikulum. Di samping itu, fasilitas yang memadai juga menjadi nilai lebih masing-masing sekolah bisnis.
Semua sekolah bisnis menyediakan perpustakaan dan jaringan Internet, yang dapat diakses secara langsung oleh mahasiswanya. "Bahkan nantinya, di setiap ruang kelas PPM disediakan Internet link," tutur Andi. Selain fasilitas Internet, MM Trisakti pun menyediakan layanan 24 jam Trisakti Online Student Services, antara lain berupa AutoSAn (Automatic SMS Announcer).
Adapun MM UI berupaya membangun fasilitas belajar yang lengkap dengan menggandeng perusahaan atau bank. Tak heran, saat ini ada ruang kuliah yang diberi nama Ruang BRI -- hasil kerja sama dengan Bank BRI. Biaya kuliah barangkali juga menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah bisnis.
Saat ini, untuk program reguler yang memiliki masa kuliah 16 bulan untuk 50 SKS, biaya kuliah di Prasetiya Mulya berkisar Rp 49 juta. Sedangkan untuk program eksekutif muda selama dua tahun, mahasiswa mesti menyiapkan dana sekitar Rp 54 juta untuk 48 SKS. Dan, untuk program MM eksekutif -- juga 48 SKS selama 2 tahun -- sekitar Rp 56 juta. "Semua biaya ini sudah all in," ungkap Nugroho. MM Trisakti bisa dikatakan menawarkan biaya kuliah relatif lebih terjangkau, Rp 20-25 juta. Terlepas dari peringkat yang ada dalam survei ini, satu pertanyaan menarik terlontar: apakah lulusan lokal kalah pamor dibanding keluaran mancanegara? Kabar tersiar, lulusan lokal masih sering dipandang sebelah mata -- baik oleh user maupun recruiter.
Beberapa perusahaan kabarnya memberi perlakuan berbeda. Lulusan luar negeri -- biasa disebut MBA -- juga terkesan lebih bergengsi dibanding lokal. Benarkah? Menanggapi hal ini, Thoby balik bertanya, "Ukurannya apa? Apakah ukurannya SDM tersebut bisa bekerja di luar negeri atau lebih mudah diterima di perusahaan multinasional?" Diakuinya, persepsi masyarakat yang lebih mengunggulkan sekolah luar negeri memang masih melekat kuat.
"Tapi, itu tidak selalu benar," bantahnya tegas. Andi menambahkan, kalau ingin menilai lulusan MBA luar negeri, terlebih dulu harus dilihat nama sekolahnya. Maksudnya, kalau sekadar dari sekolah bisnis yang kredibilitasnya tak jelas -- misal peringkatnya di bawah 400 -- bisa dikatakan MM lokal jauh lebih unggul. Bila dilihat dari nilai tambahnya, menurut Andi, kelebihan lulusan luar negeri terletak dalam hal penguasaan bahasa Inggris, international senses dan tidak gagap teknologi. Ihwal bahasa, Direktur PT Metrodata Electronics Sjafril Effendi sependapat.
"MBA luar negeri lebih baik dalam kemampuan menulis dan penguasaan bahasa Inggris," katanya. Meski begitu, sebagai user ia tidak membeda-bedakan antara lulusan lokal dan luar negeri. "Bagi kami sama saja. Selama yang bersangkutan bisa lulus tes, kami tidak pernah membedakannya," katanya. Untuk MM lokal, yang sering dipakai Metrodata antara lain dari UI, Prasetiya Mulya dan PPM. Khusus TI, dipercayakannya pada Binus. Bahkan, TNT Logistik Indonesia yang perusahaan multinasional pun tidak membeda-bedakan lulusan lokal dan luar negeri.
Di perusahaan ini, jelas Direktur SDM Country-nya, Irvandi Ferizal, yang dilihat adalah kompetensinya. Tambahan pendidikan MM/MBA, diakuinya, akan menambah wawasan karyawan. "Wawasan manajerialnya menjadi lebih matang," ujarnya. Akan tetapi, itu tidak menjamin 100%. "Ini sangat tergantung individunya," katanya. Yang banyak terjadi, Irvandi melanjutkan, tatkala diwawancarai, sejumlah pelamar bergelar MBA merasa sudah tahu semua dan siap menduduki posisi tinggi. "Mau instan. Padahal, banyak yang belum punya pengalaman dan masih butuh pengujian di lapangan," tuturnya.
Sejauh ini, TNT berpengalaman mempekerjakan lulusan STM IPMI dan Prasetiya Mulya. Di matanya, lulusan lokal pun bisa memuaskan (tentang lokal dan asing ini, lihat “Bukan Lagi the Golden Ticket”). Direktur Pengelola Templar International Consultant Dinna Erwinn mengungkapkan, umumnya MM lokal banyak diserap perusahaan-perusahaan besar yang membidangi jasa, consumer goods atau pertambangan minyak.
Bila berpengalaman, mereka akan langsung ditempatkan di posisi manajerial. Biasanya, lulusan lokal yang banyak diserap pasar berasal dari UI, Prasetiya Mulya, IPMI dan PPM. Menanggapi lulusan lokal yang tetap diserap pelaku bisnis, Wakil Kepala Divisi SDM Bank BNI Lies Purwani berpendapat, untuk lebih menggenjot daya saing lulusannya, sekolah bisnis di Tanah Air sebaiknya meningkatkan kualitasnya. Ke depan, ia berharap, sekolah bisnis tidak hanya menyediakan program yang umum dan mendasar, tapi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar (user).
Dengan begitu, lulusan lokal dapat dipastikan berdiri sejajar dengan keluaran luar negeri. Tentu, ini tantangan berat buat para pengelola sekolah bisnis di Indonesia. Akan tetapi, inilah konsekuensi agar sekolah bisnis dalam negeri tetap menjadi pilihan sekaligus jawaban kebutuhan dunia bisnis. Juga, jawaban bagi mereka yang seperti Eddy saat ditanya: apa yang diharapkan ketika memutuskan meraih gelar MM? Di mata mereka, sekolah bisnis adalah investasi untuk pengembangan diri dan karier.
Firdanianty Reportase: A. Mohammad B.S., Abraham Susanto, Dede Suryadi, Farida Nawang Nurini, Herning Banirestu, Tutut Handayani Riset: Vika Octavia. swaNET.com, Indonesia Business Online - 9 November 2003
Langganan:
Postingan (Atom)
